Oleh; Rosickyn_ch
"Tuhanku! Tidaklah pantas aku menghuni firdaus……
Namun, aku takkan sanggup menahan pedihnya api neraka jahim……”
Jika kita perhatikan untaian syair di atas, tentu kita akan menemukan keunikan di dalamnya. Syair itu adalah pengakuan seorang hamba atas ketidaklayakan dirinya menghuni firdaus, sekaligus ketidakmampuan dirinya mendekam di tungku abadi neraka jahim.
Unik, aneh, dan membingungkan! Barangkali itulah yang terlintas dalam hati kita ketika membaca syair di atas. Namun, konon berkat keunikan inilah dosa-dosa pendendang syair tersebut diampuni, tetesan embun rahmat Ilahi menyirami, memadamkan kobaran api dosa yang telah ia perbuat.
Kiranya, perlu juga kita meneladani doa-doa unik, doa-doa yang mengandung politik seperti syair di atas. Berharap doa kita lebih mudah terkabul, keinginan kita mudah tergapai. Banyak sekali doa-doa penuh keunikan dan keindahan yang dengan keunikan itu permintaan dan permohonan menjadi lebih mudah terkabul. diantaranya dapat kita petik dari beberapa kisah berikut:
1. Konon, di zaman Nabi Musa as, seorang lelaki meniggal dunia di sebuah perkampungan. Ia adalah lelaki yang berperangai buruk, lelaki tak berguna yang selama hidupnya hanya mengotori indahnya dunia ini. Karena itulah masyarakat enggan mengurus mayatnya, Tak seorangpun berkenan memerdulikan ‘bangkai’nya. Bukannya dimandikan, dikafani, dishalati dan dikebumikan, mayatnya justeru di lempar begitu saja ke tempat pembuangan kotoran hewan.
Saat itulah Nabi Musa as yang berada di tempat berbeda menerima wahyu dari Allah swt. Beliau diutus mencari keberadaan mayat lelaki tersebut untuk mengurusnya. Singkat cerita, nabi Musa as pun mendatangi perkampungan tempat lelaki itu meninggal. Ketika Nabi Musa as menanyakan perihal kematian seorang lelaki pada masyarakat di sana, mereka mengantarkan beliau ke tempat di mana mayat itu dibuang. Mereka juga menceritakan betapa buruknya perilaku lelaki tersebut hingga tanpa rasa iba mereka tega memperlakukannya demikian.
Mendengar penuturan kaumnya, nabi Musa as pun bertanya-tanya dalam hati perihal kenyataan tersebut. Dalam munajatnya, beliau mengatakan: ”Ya Allah! Engkau memerintahkan aku untuk menguburkan dan menshalati mayat lelaki ini, sementara masyarakat telah bersaksi betapa buruknya perilaku lelaki ini. Ya Allah! Engkaulah Maha Mengetahui.”
Allah swt kemudian menurunkan wahyu kepada nabi Musa as sebagai jawaban dari munajat beliau; ”Wahai Musa ! benar apa kata kaum itu, namun sebelum ia meninggal ia telah memohon pertolongan padaku dengan tiga macam doa. Seandainya semua pendosa di bumi ini memohon ampun dengan doa tersebut, niscaya aku akan mengampuni mereka.”
"Ya Allah! Apakah ketiga doa itu?" Demikian Nabi Musa as bertanya kepada Allah. Allah pun menjawab: ”Saat ajalnya hampir tiba, ia memohon kepadaku dengan doanya; " Ya Allah! Engkau Maha Mengetahui keadaanku, aku seorang pendosa. Aku lakukan berbagai maksiat, namun hatiku membencinya. Hanya karena keinginan hatiku yang tak bisa ku elak, teman-temanku yang berkelakuan buruk, dan karena syetan yang tak henti menggodaku. Ya Allah! Engkau tahu apa yang aku katakan, maka ampunilah aku! Ya Allah! Aku seorang pendosa, aku bersama para pedosa. Namun hatiku mencintai orang-orang saleh. Seandainya dua orang datang memohon padaku, orang saleh dan pendosa, maka akan aku penuhi keinginan orang saleh, bukan pendosa. Ya Allah! Jika Engkau mengampuni dosaku, para nabi dan kekasih-Mu pasti akan berbahagia, syetan yang menjadi musuhku dan juga musuh-Mu akan bersedih. Namun jika Engkau menyiksaku, syetan akan berbangga diri dan para nabi tentu akan bersedih. Ya Allah! Sungguh kebahagiaan para kekasih-Mu tentu lebih engkau sukai suka daripada kebahagiaan syetan. Maka ampunilah aku ya Allah! Engkau Maha mengetahui apa yang aku katakan.”
Konon, lantaran keindahan doa inilah Allah mengampuni sang pendosa, dan mengampuni setiap orang yang mau menshalati dan menghadiri upacara pemakamannya.
2. Saat guru syaikh Abu Manshur al-Maturidi menderita sakit pada usia 80 tahun, beliau menyuruh Abu Manshur untuk mencarikan seorang budak yang seumur dengan beliau untuk dibebaskan (dimerdekakan). Mendapat perintah dari sang guru, Abu Manshur bergegas menyusuri setiap lorong dan penjuru kota guna memenuhi keinginan sang guru. Namun, tak seorangpun ditemukan olehnya. Sebaliknya, Abu Manshur justeru mendapat cemooh dari masyarakat. "Tuan! Mana ada seorang majikan yang tega memperbudak seorang hingga usia 80 tahun, ia pasti sudah dibebaskan." Begitulah kata orang-orang. Sesampainya di rumah sang guru, Abu Manshur menceritakan kepada gurunya gagalnya pencarian budak yang diinginkan.
Mendengar hal penuturan Abu Manshur, sang guru bergegas sujud, menapakkan kepalanya di atas tanah seraya berdoa, bermunajat kepada Allah swt; "Ya Allah! tak seorangpun tega memperbudak seorang berusia 80 tahun. Ya Allah! Kini umurku telah genap 80 tahun, tidakkah Engkau akan membebaskanku dari neraka? Engkaulah Maha Mulia, Maha Agung, lagi Maha Pengampun."
Lantaran keunikan doa inilah Allah mengampuni guru Abu Manshur, membebaskannya dari belenggu api neraka.
3. Abu Nawas, seorang sufi yang terkenal dengan cerita kocaknya juga memiliki doa unik. Konon, sesaat setelah ajal menjemputnya, seorang ulama mimpi bertemu Abu Nawas. Ia bertanya kepada Abu Nawas: "Hai Abu Nawas! Bagaimana Allah memperlakukanmu setelah engkau meninggal?"
"Alhamdulillah, Allah mengampuni dosa-dosaku dan mencurahkan rahmatNya padaku." Jawab Abu Nawas.
"Apa yang mengantarmu pada ampunan itu?" ia kembali bertanya pada Abu Nawas dengan penuh penasaran.
Abu nawas pun menjawab: "Lantaran untaian syair yang aku tuliskan menjelang ajalku Aku tinggalkan untaian syair itu di bawah bantal tidurku." Terang Abu Nawas kepada ulama itu.
Setelah bangun dari tidur, sang ulama bergegas ke rumah Abu Nawas untuk mengetahui isi syair ampuh yang dikatakan Abu Nawas dalam mimpinya barusan. Sampai di rumah Abu Nawas ia bertemu dengan isteri Abu Nawas. Tanpa basa basi, ia segera bertanya kepada isteri Abu Nawas; "Apa yang ditinggalkan Abu Nawas menjelang ajalnya?" Merasa tidak mendapat tinggalan apapun, isteri Abu Nawas menjawab; "Abu Nawas tak meninggalkan apapun tuan." Sang ulama kembali berujar: "Coba kau lihat di bawah bantal tempat Abu Nawas meninggal!"
Sepucuk kertas bertuliskan beberapa syair ditemukannya di bawah bantal, persis dengan kata Abu Nawas dalam mimpi sang ulama. Syair goresan Abu Nawas itu berbunyi demikian:
Ya Tuhan! Aku tahu betapa besar dosaku……
Tapi aku pun tahu, ampunanmu jauh lebih besar……
Ya Allah! Jika hanya orang saleh yang boleh berharap kepada-Mu……
Kepada siapakah para pendosa akan berharap……?
Ya Allah! Aku tak punya apapun selain berharap……
Mengharap indahnya ampunanmu……
Pasrahku padamu ya Allah……!
Inilah beberapa doa unik dan politik, keanehan yang mengantarkan kepada terkabulnya doa-doa para hamba. Kiranya perlu pula kita meneladaninya!
No comments:
Post a Comment